Sektor

Proyek Investasi

Proyek Siap Ditawarkan Kabupaten Cilacap
Pengembangan Kawasan Khusus Perikanan Terpadu di Kabupaten Cilacap Sebagai Wilayah Blue Economy Indonesia

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten (BPS) Cilacap pada tahun 2024, produksi penangkapan ikan di sungai sebesar 1.140.643 kg dan rawa sebesar 296.240 kg. Sementara itu, produksi penangkapan ikan di keramba sebesar 1.514.187 kg. Data tersebut mencerminkan bahwa Kabupaten Cilacap memiliki potensi besar di sektor perikanan yang harus diolah dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan kegiatan di sektor perikanan yang masih terpisah menyebabkan tidak efektif dan potensi perikanan tidak tergarap secara maksimal, maka diperlukan suatu Kawasan terpadu yang saling terintegrasi untuk mengakomodir aktivitas usaha sektor perikanan untuk meningkatkan potensi sektor perikanan yang ada sebelumnya.

Proyek Potensial Kabupaten Pati
Pengolahan Briket Sampah

Sampah dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi lebih kompleks, diantaranya sampah yang tidak dikelola dengan baik membuat estetik lingkungan menjadi rendah dikarenakan pembuangan sampah sembarangan, disamping memungkinkan untuk terjadinya pencemaran air, tanah, dan udara

Proyek Siap Ditawarkan Kabupaten Banjarnegara
Pembangunan Industri tepung Modified Cassava Flour (MOCAF)

Sentra produksi ubi kayu di Indonesia adalah Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat. Luas Panen Rata-rata luas panen ubi kayu pada tahun 2012-2016, pada 3 (tiga) provinsi sentra ubi kayu utama berkontribusi sebesar 57,10%. Provinsi sentra tersebut adalah Lampung sebesar 27,71%, Jawa Timur sebesar 14,80% dan Jawa Tengah sebesar 14,59%.Secara umum, penghasil ubi kayu terbesar di Kabupaten Banjarnegara adalah Banjarnegara bagian selatan seperti Kecamatan Bawang (864 Ha, 39 poktan), Kecamatan Purwonegoro (1.682 Ha, 77 poktan), Mandiraja (300 Ha, 46 poktan), Rakit (255 Ha, 23 poktan), dan Punggelan (461 Ha, 24 poktan). Dengan ketersediaan lahan yang masih luas, serta tingkat iklim yang cocok, produksi tanaman ubi kayu dapat dikembangkan dalam skala besar di Kabupaten Banjarnegara. Hal ini dapat ditunjukkan dari data produksi ubi kayu Kabupaten Banjarnegara.

Proyek Prospektif Kota Pekalongan
Pengembangan Technopark Perikanan Berbasis Blue Economy Development Kota Pekalongan

Pengembangan Technopark Perikanan Kota Pekalongan ini akan mengusung konsep Blue Economy Development dengan maksud untuk melakukan sentralisasi seluruh hasil perikanan, baik tangkap maupun budidaya sehingga bisa mencapai efisiensi biaya, karena nantinya seluruh proses dari hulu ke hilir, yaitu mulai dari ikan yang masih mentah, penyimpanan, pengolahan, hingga pemasaran akan dapat terpusat di Technopark Perikanan Kota Pekalongan (one stop fishery industry). Ini merupakan upaya untuk menaikkan kembali kejayaan sector perikanan Kota Pekalongan yang sedikit meredup pada 5-10 tahun terakhir. Lebih jauh, di sepanjang pantai Kota Pekalongan saat ini sedang dibangun tanggul laut (sea wall) dan akan dibangun Pelabuhan Onshore, yang akan meningkatkan potensi industri perikanan Kota Pekalongan. Hal ini merupakan upaya dalam mewujudkan visi RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 yaitu “Mewujudkan Kota Pekalongan yang Lebih Sejahtera, Mandiri dan Religius”, dimana dinamika pembangunan sosial ekonomi dan masyarakatnya akan diletakkan pada dua potensi unggulan, salah satunya perikanan.

Proyek Potensial Kabupaten Batang
Pengolahan Sampah Organik Berbasis Eksport Kabupaten Batang

Berdasarkan permintaan dari kebutuhan di Negara Jepang sangatlah tinggi, dan kita baru bisa mensuplai sekitar 30% per tahun dan sisanya dikuasai oleh negara Cina dan Vietnam. Sehingga dari asumsi tersebut peluang untuk masuk dan mensuplai masih sangat terbuka lebar. 

Proyek Potensial Kabupaten Kebumen
Industri Pengalengan Buah

Konsumsi buah nasional Indonesia masih dibawah standar WHO yaitu 67 gram per kapita per tahun. Sifat dan karakteristik sumberdaya produk sehat nabati yang mudah rusak, terlebih bila penanganan yang belum higienis, menyebabkan produk cepat membusuk. Sebagai salah satu daerah penghasil jambu kristal dan pepaya california, Kebumen yang juga merupakan jalur perdagangan buah antar daerah, untuk menjaga harga maka konsep pengalengan makanan menjadi pilihan karena dapat meningkatkan nilai tambah produk dan juga salah satu solusi untuk memperpanjang umur produk. Pengolahan buah bertujuan untuk mengawetkan makanan yang mudah rusak dalam bentuk stabil yang dapat disimpan dan dikirim ke pasar yang jauh selama berbulan-bulan dan membuat makanan tersebut lebih mudah untuk disiapkan.  Di sisi lain, ketersediaan lahan untuk lokasi pabrik yang berada di jalur lalu lintas yang mudah dijangkau oleh berbagai kendaraan sehingga aksesibilitas mitra kerja cukup mudah karena berada di jalur utama.