Pembangunan Light Rail Transit (LRT) Kota Semarang
Proyek Potensial

Latar Belakang :
Ide/ gagasan pengembangan LRT di Kota Semarang diyakini dapat memberikan pendorongan bagi peningkatan perekonomian Kota Semarang. Hal ini sesuai dengan hasil OBC tahun 2019 yang telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia terhadap pengembangan LRT di Kota Semarang. Tingkat kemacetan di kota semarang yang cukup tinggi akibat dari pertumbuhan dan mobilitas penduduk yang semakin meningkat, disamping itu juga disebabkan oleh pertumbuhan jumlah kendaraan yang cukup tinggi yaitu sebesar 12% pertahun tidak sebanding dengan pertambahan jaringan jalan yang hanya sekitar 0,9% pertahun dan sebagai kota metropolitan kita menginginkan adanya moda transportasi yang tidak mengalami tundaan / mix traffic sehingga LRT menjadi salah satu solusinya.
Nilai Investasi | Rp14,76 triliun | |
Skema Investasi |
Mengingat anggaran yang dibutuhkan untuk pengembangan LRT cukup besar, opsi untuk pengganggaraannya dengan menggunakan skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha). Selain itu kita juga melibatkan unsur lain sebagai salah satu alternative dan upaya kerjasama misalnya kerjasama dengan west park (kompleks mall, hotel dan pertokoan) dimana mereka secara informal akan membangunkan 1 stasiun terkait dengan penempatan stasiun di Bandara A. Yani Pembiayaan yang dilakukan dengan alokasi anggaran dari berbagai pihak. Beberapa stakeholder yang nantinya kemungkinan terlibat adalah :
|
|
Kondisi Saat Ini |
Pembangunan Light Rail Transit (LRT) Kota Semarang sudah terdapat kajian Studi Pendahuluan Moda Transpotasi Berbasis Rel yang disusun pada tahun 2018. Proyek ini masuk didalam PPP Book Bappenas sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor Kep. 46/M.PPN/HK/04/2019 tentang Penetapan Daftar Rencana Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Tahun 2019. Progres Pembangunan Light Rail Transit (LRT) Kota Semarang sampai pada tahapan Penyusunan Dokumen Outline Business Case (OBC) yang dibantu oleh Dirjen Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan pada tahun 2019. Prioritas Pembangunan tahap 1 adalah koridor 9 yaitu trase Bandara Ahmad Yani – Pasar Bulu. |
|
Ruang Lingkup Proyek |
Rencana pembangunan 9 koridor LRT dengan panjang trase ± 78,4 Km yang terdiri dari:
Adapun prioritas pembangunan Koridor LRT adalah Koridor 9 tahap 1 (Bandara A. Yani – Madukoro – Kokrosono – Pasar Bulu) dengan panjang trase : ± 5.9 Km |
|
Ketersediaan Pasar |
Kota Semarang memiliki populasi kendaraan Lebih dari 313 ribu kendaraan pribadi, terdapat lebih dari 1.078.000 perjalanan perhari. Pengguna angkutan umum di Semarang baru mencapai angka 4 persen dengan kontribusi lalu lintas commuter barat timur signifikan mencatat setiap hari ada sekitar 28% dari total perjalanan adalah pelaju (transmutter) dari daerah sekitar Kota Semarang, seperti Kendal, Demak dan Ungaran. Potensi permintaan perjalanan berdasarkan hasil analisis adalah 19.000 perjalan per jam pada kondisi jam puncak. Untuk kategori bukan jam puncak permintaan perkalanan dapat mencapai 4.500 perjalanan per jam. Berdasarkan kondisi tersebut, potensi penumpang yang akan dilayani LRT mencapai 35.000-45.000 penumpang per hari. |
|
Luas Lahan | ||
Sumber Air | ||
Kelistrikan | ||
Telekomunikasi |
Npv | 10,53% | |
Irr | 11,86 % | |
Bc Ratio | ||
Payback Period |
Nama Pic | DPMPTSP Kota Semarang | |
Nama Instansi | Kota Semarang | |
Alamat Instansi | Jl. Pemuda 148 Semarang | |
Hp/Email | 024 3585944 / dpmptsp@semarangkota.go.id |