Strategi Jawa Tengah Dalam Menarik Investasi

Strategi Jawa Tengah Dalam Menarik Investasi

Dalam rangka menaikkan dan menggairahkan iklim investasi di Jateng, maka pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota fokus menyelesaikan permasalahan terkait peruntukan lahan serta proses perizinan usaha. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu “DPMPTSP” mengungkapkan bahwa seluruh pemerintahan di Jawa Tengah baik itu kabupaten maupun kota sudah memiliki kesadaran tinggi terkait investasi. Oleh karena itu, hal ini tentu akan memberikan efek positif bagi penanaman modal dan memberikan iklim yang kondusif. Dengan begitu, kebutuhan lahan tentu menjadi salah satu hal yang harus dipersiapkan sejak awal.

Pemerintah akan mendorong pemerintah kabupaten atau kota untuk segera meregulasi terkait peruntukan wilayah dan ruang supaya bisa ditetapkan. Sebab, lahan merupakan izin dasar bagi para investor dalam memulai usaha dan juga merealisasikannya.

Sejumlah 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, masing-masing telah memiliki target investasi. Dengan begitu, mereka rutin melakukan pertemuan dengan DPMPTSP Jawa Tengah guna menyelesaikan dan mendiskusikan permasalahan teknis yang ada di lapangan. Baik DPMPTSP Jawa Tengah maupun PTSP di semua kabupaten atau kota di Jawa Tengah akan selalu mengawal segala proses realisasi investasi di Jateng. Dengan begitu, proses perizinan para investor akan semakin jelas, mudah, dan juga cepat. Sehingga, laju usaha bisa segera beroprasi.

Teruntuk proyek yang sangat prioritas, Jawa Tengah menawarkan sebuah Kawasan Industri (KI) yang ada di Kabupaten Kendal serta Kawasan Candi Borobudur, di Magelang. Sebentar lagi Kawasan Industri Kendal akan menjadi Kawasan Ekonomi khusus (KEK) dengan luas 4.500 hektare. Selain KI Kendal, Brebes juga memiliki Kawasan Industri yang memiliki luas 1.00 hetare (ha). KI ini berpotensi sebagai pengmebangan di sektor industri garmen serta alas kaki.

Adapun sejumlah keunggulan Jawa Tengah sebagai kawasan atau lokasi usaha dan investasi, yaitu terkait komitmen pemerintah dalam membantu soal perizinan, tenaga kerja yang kompetitif, ketersediaan infrastruktur yang memadai, dan ketersediaan lahan yang luas. Keunggulan ini akan terus dimaksimalkan oleh pemerinta provinsi guna menarik para investor dan meraih target pertumbuhan eknomi yaitu sebanyak 7%, seperti yang sudah ditargetkan oleh pemerintah pusat.

Di sisi lain, dengan adanya virus corona yang baru-baru ini menyebar dan menginfeksi banyak orang di Indonesia, hal ini tentu berdampak buruk bagi perekonomian di Indonesia. Pada minggu ketiga Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan hingga 5 % dalam sehari. Hal ini tentu menimbulkan banyak kekhawatiran para investor dan juga masyarakat akibat ketidakpastian pasar yang terus melemah. Oleh sebab itu, beberapa investor telah mencairkan investasinya karena masalah ini.

Oleh karena itu, para investor harus menimban ulang terkait strategi yang harus dilakukan. Budi Raharjo selaku perencana keuangan dari One Shildt Financial Planning mengatakan bahwa strategi yang tepat dalam berinvestasi adalah dengan cara menengok kembali bahwa sebenrnya apa yang ingin dicapai.

Menurutnya, strategi ini adalah salah satu langkah yang paling bijak, dimana para investor harus mengetahui tujuannya dahulu. Setelah itu, baru diimplementasikan dengan cara menentukan jenis ataupun instrumen yang paling cocok guna mencapai tujuan itu. Hal ini tentu sangat penting untuk mencegah kebingungan yang timbul akibat pasar yang bergejolak. Dimana keputusan yang akan diambil harus mengacu pada tujuan awal yang sudah ditetapkan, apakah instrumen yang sudah dimiliki harus ditahan atau malah dijual.

Salah satu contoh kasus serupa yaitu kasus saham. Jika tujuan investasinya jangka pendek, maka sangat disarankan untuk memindahkan instrumen investasi ke sarana yang lebih aman, seperti pasar uang atau deposito, dimana sarana tersebut memiliki risiko yang relatif rendah.

Untuk meminimalkan kerugian yang barangkali akan terjadi mengingat ketidakpastian pasar yang melemah, harus dilakukan proses penyeimbangan kembali atau rebalancing portofolio. Dalam hal ini para investor harus bersikap konsevatif.

Akan tetapi untuk para investor yang sudah lama menggeluti bidang ini, dengan kondisi yang seperti ini mereka dapat melihat harga saham yang terkoreksi dan mnajdikannya sebuah peluang untuk mengambil keuntungan yang besar. Namun, hal ini tentu memerlukan pengetahuan finansial yang baik dan keberanian yang kuat dalam mengambil semua risiko.

Menurut Chief Investment Officer Jagartha Advisors Erik Argasetya, kondisi dimana pasar saham turun merupakan sebuah diskon, yang nantinya akan memberikan peluang bagi para investor untukmendapatkan keuntungan dan juga membangun portofolionya. Menurutnya, pasar saham akan selalu mengalami rebound setelah selesainya masalah epidemi. Jadi, dengan kondisi pasar saat ini, para investor dapat memanfaatkannya dengan cara membeli produk saham dikarenakan harga saham rendah, kemudian membiarkannya sampai kondisi pasar saham mulai membaik.

 

Akan tetapi, perlu diingat bahwa para investor harus tetap melakukan diversifikasi instrumen. Sekarang ini sudah ada banyak pilihan yang dapat dijadikan alternatif yang bukan hanya sekadar pasar modal seperti saham, reksa dana, ataupun obligasi.