SALATIGA GERIATRIC WELLNESS AND SENIOR LIVING

Proyek Siap Ditawarkan

Latar Belakang :

Senior living atau hunian untuk lansia merupakan segmen properti yang semakin berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lanjut usia dan usia harapan hidup penduduk di Indonesia yang meningkat. Usaha senior living dan geriatri dapat memberikan layanan kesehatan khusus, layanan fasilitas ramah lansia, layanan aktivitas sosial, olah raga, dan rekreasi, layanan dukungan psikologis dan emosional, dan layanan lain yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan lansia. Dari aspek pasar di sekitar salatiga telah ada beberapa panti jompo yang dikelola untuk unit sosial, ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan tempat tinggal bagi para lansia mandiri sangat diperlukan. Dari aspek legalitas tidak ada peraturan khusus di Salatiga yang melarang pendirian pusat kesehatan yang dipadukan dengan aktivitas sosial. Beberapa perijinan dasar perlu diperhatikan terutama untuk pendirian jasa kesehatan, sosial dan perumahan. Pembangunan Senior Living dan Geriatri Center beroperasi sebagai bentuk kemitraan antara Pemerintah Daerah Kota Salatiga dengan pihak swasta murni. Kebutuhan tanah untuk bangunan yang cukup luas yakni 12.966 m2 adalah milik Pemerintah Kota Salatiga hanya dapat di kerjasamakan pihak swasta dengan sistem sewa selama kurang lebih 20 tahun untuk periode diawal pedirian dan dapat diperpanjang setelahnya dengan perjanjian yang baru. Desain kawasan Senior Living dan Geriatri Centre Salatiga mengusung konsep “Tropical Wellness Village” perpaduan antara kenyamanan hunian, pelayanan kesehatan, dan rekreasi lansia berbasis lingkungan tropis alami. Desain ini menitikberatkan pada efisiensi tata ruang, aksesibilitas universal, keamanan, dan kehangatan sosial. Terdiri dari 2 unit utama Blok A (Pusat Layanan & Administrasi ±7.182 m²), diperuntukkan bagi fungsi-fungsi pelayanan utama Klinik Geriatri dan Rehabilitasi Medis) dan Blok B (Hunian dan Fasilitas Lansia ±11.844 m²), didesain sebagai lingkungan tenang dan hijau untuk 100–150 penghuni tetap.

Hasil perhitungan analisis kelayakan proyek Senior Living dan Geriatri Centre Salatiga menunjukkan bahwa proyek ini dinilai layak secara finansial dan operasional berdasarkan indikator utama analisis investasi. Nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp946,6 juta, Internal Rate of Return (IRR) mencapai 15,82% yang sedikit melampaui tingkat diskonto 15,6%, serta Payback Period (PP) selama 5,98 tahun menggambarkan kemampuan proyek dalam mengembalikan investasi dalam jangka waktu yang wajar. Sementara itu, Return on Investment (ROI) sebesar 9,69% menandakan efisiensi pengelolaan operasional dan potensi laba bersih yang menarik bagi investor. Secara keseluruhan, hasil analisis ini menegaskan bahwa proyek memiliki prospek keuntungan jangka panjang yang stabil dengan risiko finansial yang masih dalam batas moderat, sehingga layak untuk direalisasikan sebagai investasi di sektor layanan kesehatan dan hunian lansia yang berkelanjutan.

Nilai Investasi : Rp121.783.026.200,00
Skema Investasi :

Pembangunan Senior Living dan Pusat Geriatri beroperasi sebagai bentuk kemitraan antara Pemerintah Daerah Kota Salatiga dengan pihak swasta murni. Kebutuhan tanah untuk bangunan yang cukup luas yakni 19.056 m2 terletak di Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, Jawa Tengahdengan dengan sistem sewa. adalah milik Pemerintah Kota Salatiga. Pola kemitraan hanya dapat kerjasamakan pihak swasta dengan sistem sewa selama kurang lebih 20 tahun untuk periode diawal pedirian dan dapat diperpanjang setelahnya dengan perjanjian yang baru. Dengan demikian pola manajemen yang hendak dilaksanakan pada proyek Senior Living & Geriarti Centre ini adalah kerja sama pemerintah dengan sistem sewa

Pemerintah Daerah berperan sebagai pemilik aset dan pengawas kebijakan, menjamin kesesuaian kegiatan dengan rencana tata ruang dan kepentingan publik. Sementara pihak Swasta membangun dan mengoperasikan fasilitas infrastruktur tersebut. Pihak swasta bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan, operasional, serta pemeliharaan fasilitas Senior Living dan Pusat Geriatri. Setelah masa konsesi habis Senior Living dan Pusat Geriatri tersebut dipindah tangankan kepada Pemerintah Daerah. Pada akhir Perjanjian Kerjasama seluruh aset proyek diserahkan kepada Pemerintah sesuai perjanjian yang telah disepakati.

Kondisi Saat Ini :

Lahan Kosong

Ketersediaan Pasar :

Salah satu faktor yang perlu ditelaah untuk mengetahui potensi permintaan layanan geriatri dan senior living adalah tentang tren kependudukan di Indonesia yang terutama terkait dengan penduduk lansia. BPS mencatat penduduk Indonesia pada tahun 2025 sebesar 11,93 % atau sekitar 33,94 juta. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir (2020–2025) persentase lansia Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2020 sebesar 9,93% menjadi 11,93 % pada tahun 2025. Persentase lansia perempuan lebih besar dibanding laki-laki, yakni 52,16% berbanding 47,84%. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan umur, komposisi lansia paling besar adalah lansia kelompok umur muda, yakni penduduk yang berumur 60–69 tahun, dengan persentase sebesar 63,72 persen, diikuti oleh lansia madya sebesar 28,94%, dan lansia tua sebesar 7,34%. Sejak tahun 2021, Indonesia telah memasuki fase struktur penduduk tua (ageing population), yaitu sekitar 1 dari 10 penduduk adalah lansia.

Hingga tahun 2022, data Kementerian Sosial RI menunjukkan bahwa terdapat sekitar 800 panti jompo (panti wreda) di Indonesia dengan total penghuni mencapai kurang lebih 25.000 lansia. Jumlah ini tergolong kecil dibandingkan populasi lansia total, dengan mayoritas lansia masih tinggal bersama keluarga atau pasangan, sementara sebagian lainnya terlantar. Di Provinsi Jawa Tengah, BPS mencatat jumlah penghuni pada panti Wreda sangat kecil namun memiliki potensi permintaan yang cukup besar dengan adanya ageing population yang terjadi di Indonesia.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia, kebutuhan akan layanan perawatan harian, lingkungan sosial yang lebih stabil, dan intervensi keperawatan yang memadai sangat dibutuhkan. Fenomena aging population tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga pada kebutuhan akan lingkungan hunian yang aman, nyaman, serta didukung oleh layanan kesehatan dan sosial yang terintegrasi. Kondisi ini diperkuat oleh perubahan struktur keluarga modern, di mana anggota keluarga usia produktif cenderung memiliki mobilitas tinggi dan keterbatasan waktu dalam memberikan perawatan optimal bagi lansia. Dengan demikian Salatiga Greiatric Wellness & Senior Living berpotensi menciptakan permintaan yang cukup besar di masa yang akan datang.

Luas Lahan : 12.966 m2
Status Kepemilikan Lahan :

Status kepemilikan lahan merupakan milik Pemerintah Kota Salatiga, dengan rincian sebagai berikut:

  1. HP 25 Kumpulrejo luas lahan 7.182 m2;

  2. HP 28 Kumpulrejo luas lahan 2.186 m2;

  3. HP 29 Kumpulrejo luas lahan 2.735 m2;

  4. HP 30 Kumpulrejo luas lahan 2.409 m2; dan

  5. HP 38 Kumpulrejo luas lahan 4.544 m2.

Sumber Air :

Air merupakan kebutuhan vital bagi operasional kompleks layanan lansia dan fasilitas kesehatan. Berdasarkan perhitungan jumlah penghuni, staf, serta aktivitas penunjang seperti laundry, dapur, dan sanitasi, kebutuhan air bersih diperkirakan mencapai 50–60 m³ per hari. Pasokan utama akan bersumber dari jaringan PDAM setempat, yang dinilai memiliki kapasitas dan kontinuitas yang memadai, sedangkan sumur bor cadangan akan disiapkan untuk mendukung ketahanan pasokan apabila terjadi gangguan dari sumber utama. Berkaitan dengan hal tersebut. Untuk menjaga kualitas air, seluruh pasokan akan melewati Water Treatment Plant (WTP) yang mencakup sistem filtrasi, disinfeksi, dan penyesuaian pH sesuai standar air bersih untuk fasilitas kesehatan. Air bersih akan ditampung dalam reservoir bawah tanah (ground tank) berkapasitas ±100 m³ dan tangki atas (elevated tank) berkapasitas ±20 m³, yang diatur menggunakan sistem pompa booster ganda (duty–standby) dengan pengatur tekanan otomatis (VSD) untuk memastikan distribusi air stabil ke seluruh bangunan.

Kelistrikan :

Kebutuhan energi listrik pada kawasan Senior Living dan Geriatri Centre sangat krusial karena melibatkan operasional fasilitas kesehatan, hunian berteknologi tinggi, serta sistem penunjang kehidupan yang berkesinambungan. Berdasarkan proyeksi kapasitas bangunan dan jumlah unit yang beroperasi, total beban listrik diperkirakan mencapai sekitar 526 kVA. Untuk menjamin keandalan suplai daya, direncanakan pemasangan trafo utama berkapasitas 630 kVA dengan ruang untuk ekspansi hingga 800 kVA apabila di kemudian hari terjadi peningkatan kapasitas operasional. Kondisi ini didukung oleh keberadaan elektrifikasi dan pembangunan jaringan di Salatiga sesuai dengan data berikut:Jaringan Telekomunikasi.

Terkait dengan teknis kelistrikan, distribusi energi akan diatur melalui panel distribusi utama (Main Distribution Panel/MDP) yang terletak di Blok A, dengan sub-panel di tiap bangunan dan sistem proteksi otomatis berbasis smart load management. Sistem ini terhubung dengan Building Management System (BMS) yang memungkinkan pemantauan konsumsi energi, pengendalian beban puncak, dan deteksi dini gangguan. Sebagai antisipasi terhadap gangguan dari jaringan utama PLN, kawasan akan dilengkapi genset otomatis (genset standby) dengan kapasitas 500 kVA, lengkap dengan Automatic Transfer Switch (ATS) untuk memastikan perpindahan daya secara instan tanpa memutus pasokan listrik ke fasilitas kritis seperti ruang perawatan intensif, klinik, dapur, dan sistem keamanan.

Untuk mendukung prinsip efisiensi energi dan keberlanjutan, sebagian atap bangunan akan dimanfaatkan untuk instalasi panel surya (solar photovoltaic system) dengan kapasitas 150–250 kWp. Sistem ini dirancang untuk menutupi sebagian kebutuhan listrik siang hari dan mengurangi ketergantungan terhadap energi konvensional. Penerangan kawasan menggunakan lampu LED hemat energi dengan sistem sensor otomatis (motion & daylight sensor), sementara area publik seperti taman dan jalan kawasan akan dilengkapi penerangan tenaga surya (solar street lighting) untuk mendukung konsep low carbon footprint.

Telekomunikasi :

Dalam konteks layanan lansia dan fasilitas geriatri modern, jaringan telekomunikasi menjadi tulang punggung utama dalam mewujudkan konektivitas, keamanan, dan pelayanan berbasis teknologi digital. Sistem telekomunikasi di kawasan ini akan mengintegrasikan internet berkecepatan tinggi berbasis fiber optic (FTTx) yang menjangkau setiap bangunan melalui jaringan Local Area Network (LAN) dan Wireless Access Point (Wi-Fi 6) dengan jangkauan menyeluruh di area hunian, ruang medis, hingga taman.

Fasilitas ini juga akan didukung oleh sistem komunikasi internal (intercom dan VoIP) yang menghubungkan setiap unit hunian, klinik, dan pusat keamanan. Untuk mendukung kegiatan medis digital, sistem disiapkan untuk telemedicine-ready, memungkinkan dokter atau perawat melakukan konsultasi dan pemantauan kesehatan penghuni melalui perangkat video conference yang tersambung ke server lokal maupun cloud.

Ruang data (server room) akan dilengkapi dengan pendingin terkontrol, UPS, sistem deteksi kebakaran (FM200), dan keamanan berlapis untuk melindungi data medis dan administrasi. Sistem ini juga menjadi pusat bagi integrasi nurse-call system, CCTV berbasis IP, akses kontrol biometrik, serta panic button di setiap kamar penghuni yang langsung terhubung dengan petugas jaga. Konektivitas eksternal disiapkan dengan redundant link melalui dua provider berbeda untuk menghindari single point of failure, serta dukungan sinyal 4G/5G repeater guna memperkuat jaringan seluler di seluruh area kompleks.