Pengolahan Limbah Pertanian Menjadi Biomasa

Proyek Siap Ditawarkan

Latar Belakang :

Proyek pengolahan limbah pertanian menjadi biomassa di Kabupaten Grobogan dimaksudkan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, mengurangi dampak lingkungan akibat limbah organik, sekaligus memperkuat kemandirian energi daerah

Tujuan proyek investasi ini adalah :

  1. Mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian (bonggol jagung, sekam padi, gamal) menjadi produk energi terbarukan dan pupuk bio

  2. Mendukung kebijakan transisi energi hijau dengan menyediakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan

  3. Meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat lokal melalui penciptaan pasar baru bagi limbah pertanian dan penyerapan tenaga kerja

  4. Mendorong tercapainya target pengurangan emisi gas rumah kaca serta mendukung SDGs sektor energi bersih dan lingkungan

  5. Memperkuat daya saing ekonomi daerah dengan menjadikan Grobogan sebagai pusat produksi biomassa di Jawa Tengah

Arah kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Grobogan juga telah menempatkan pengembangan energi baru terbarukan dari limbah pertanian sebagai salah satu strategi penting dalam mewujudkan ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini membuka peluang investasi yang sangat potensial bagi sektor pengolahan limbah pertanian menjadi biomassa, tidak hanya untuk mendukung kebutuhan energi ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani serta kontribusi nyata dalam pengurangan emisi karbon.


Nilai Investasi : Rp 273.859.058.708,00.
Skema Investasi :
  1. Pola Business to Business (B2B)

    Pola ini menekankan hubungan kerja sama antar-badan usaha, di mana masing-masing pihak memiliki kedudukan setara berdasarkan perjanjian bisnis. Pola ini dipilih jika investor memilih lokasi pabrik di KPI Kedungjati atau KPI Tanggungharjo

    • Petani / Gapoktan/Koperasi/BUMDes bertindak sebagai pemasok bahan baku limbah pertanian (bonggol jagung dan residu pertanian lainnya).

    • Investor swasta berperan sebagai pengelola produksi, yang melakukan pengolahan limbah pertanian menjadi produk biomassa (LBG).

    • Industri besar/PLTU/transportasi/industri pengguna energi berfungsi sebagai offtaker, yang memberikan kepastian pasar terhadap hasil olahan biomassa.

    Melalui pola B2B ini, terjadi kepastian pasokan bahan baku, kepastian penyerapan produk, serta pembagian risiko dan keuntungan yang lebih proporsional

  2. Pola Kerjasama Pemanfaatan Aset melalui Sewa
    proyek ini juga dapat memanfaatkan kerjasama pemanfaatan aset melalui sewa. Pola ini dipilih jika investor bemilih lokasi pabrik di KPI Kedungjati. karena KPI Kedungjati yang saat ini statusnya masih tanah gege rencananya akan diminta Pemerintah kabupaten Grobogan sebagai aset Pemda Grobogan.

    • BUMD / BLUD bertindak sebagai pemasok bahan baku limbah pertanian

    • Pemda menyediakan aset tanah yang ada di lokasi KPI Gubug.

    • Investor Swasta menggunakan aset tersebut dengan mekanisme sewa sesuai

    jangka waktu dan kesepakatan kontrak.

    Dengan pola ini, biaya investasi dapat ditekan, aset daerah dapat termanfaatkan secara produktif, dan keberlanjutan proyek lebih terjamin

Kondisi Saat Ini :

Kondisi Eksisting Lahan :

  1. Kawasan KPI Tanggungharjo dikelola oleh PT Azam Laksana Intan Buana (PT ALIB) yang memegang hak atas sekitar 82 hektare di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan. Dari jumlah itu, tersisa 17 hektare. Jarak KPI Tanggungharjo ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sejauh 35 Km, dengan kelebihan daya listrik sebesar 4.000 MW untuk kelistrikan Jawa- Bali. Kondisi Eksisting saat ini berupa kawasan siap bangun yang sudah ditata oleh PT. ALIB

  2. KPI di Kecamatan Kedungjati terletak di Desa Jumo Kecamatan Kedungjati seluas 104 Ha, pada satu hamparan yang sama dengan KPI Desa Mrisi Kecamatan Tanggungharjo dengan luas 20 Ha sehingga total luas KPI dalam hamparan tersebut menjadi 124 Ha. Jarak ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sejauh 50 Km, dengan kelebihan daya listrik sebesar 4.000 MW untuk kelistrikan Jawa- Bali. Kondisi Eksisting Lahan berupa lahan sawah dan lahan kering dimana status kepemilikan lahan dimiliki perseorangan dan sebagian merupakan tanah kas desa

Ketersediaan Pasar :

Persaingan di sektor ini cukup ketat, terutama dari fasilitas pengolahan biogas yang sudah beroperasi di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Beberapa fasilitas pengolahan yang berpotensi menjadi pesaing seperti PLTBg Jatibarang – Semarang dan TPA Benowo – Surabaya Waste to Energy Plant.

Namun, proyek LBG dari bonggol jagung Kabupaten Grobogan memiliki keunggulan tersendiri yaitu ketersediaan bahan baku bonggol jagung yang melimpah di wilayah Jawa Tengah, khususnya Grobogan sebagai salah satu sentra jagung nasional. Dengan keunggulan lokasi ini, proyek LBG berpotensi menekan biaya bahan baku sekaligus mendukung program energi terbarukan nasional. Strategi pemasaran yang tepat, penguatan jaringan distribusi, serta kerjasama dengan industri besar pengguna energi di Jawa Tengah seperti pabrik semen dan transportasi akan sangat menentukan keberhasilan LBG dari bonggol jagung dalam menghadapi persaingan pasar energi terbarukan.

Potensi pasar Liquefied Biogas (LBG) di Area Jawa Tengah semakin kuat dengan banyaknya kawasan industri strategis seperti Tambakaji, KI Kendal, dan KIT Batang. Pabrik-pabrik di berbagai sektor membutuhkan pasokan energi besar yang berkelanjutan. Seiring dorongan pengurangan emisi karbon, LBG menjadi alternatif ramah lingkungan yang kompetitif, tidak hanya untuk industri besar tetapi juga bagi perusahaan subholding gas yang menyalurkan gas bumi melalui jaringan pipa ke pelanggan. PGN Area Semarang sangat potensial untuk menjadikan Liquefied Biogas (LBG) sebagai segmen pasarnya. Sebagai unit operasional PGN yang bertanggung jawab atas distribusi gas bumi di wilayah Jawa Tengah khususnya Semarang dan sekitarnya, PGN telah melayani lebih dari 17.500 pelanggan dari berbagai sektor, termasuk industri, rumah tangga, UMKM, dan komersial. Infrastruktur PGN yang sudah mapan, termasuk pipa gas backbone dan SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) di Semarang memungkinkan distribusi berbagai bentuk gas termasuk Liquefied Biogas sebagai energi alternatif.

Luas Lahan : 20.688 m2
Sumber Air :

Di lokasi ini, sumber air utama akan diperoleh dari sumur bor yang dibangun secara khusus untuk water scrubbing, pendinginan, serta pencampuran bahan baku pada proses pengolahan. Sumur bor dipilih karena kemampuannya untuk menyediakan pasokan air yang stabil dengan debit yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan harian.

Menurut Environmental Protection Agency (2020), untuk kebutuhan pabrik biogas skala besar, diperlukan pasokan air sekitar 0,3 m3 per ton bahan kering. Artinya, untuk volume bahan baku bonggol jagung dengan angka 200 ton per hari, total kebutuhan air mencapai sekitar 60 m3 per hari. Penggunaan air dalam jumlah tersebut mencakup fungsionalitas untuk mencampur dan menghaluskan bahan baku agar tercampur homogen pada mesin, serta untuk mendukung proses pendukung seperti pendinginan gas (upgrading), water scrubbing, serta keperluan utilitas lainnya

Kelistrikan :

Operasional pabrik LBG di Desa Sugihmanik membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung kinerja mesin utama seperti crusher, dryer, gasifier/digester, upgrading unit, liquefaction unit, pompa, dan sistem kontrol. Dengan kapasitas pengolahan bahan baku 200 ton/hari, estimasi kebutuhan daya listrik mencapai 600 kVA dengan rata-rata konsumsi 7.200 kWh per hari

Pasokan listrik utama direncanakan berasal dari jaringan PLN, dengan tarif industri rata-rata Rp1.150/kWh. Sebagai cadangan, disediakan genset diesel 600 kVA untuk mengantisipasi gangguan pasokan listrik. Genset dioperasikan dengan solar dengan konsumsi rata-rata 120 liter per jam. Dengan probabilitas gangguan listrik sekitar 5%, utilisasi genset diperkirakan hanya 0,4 jam per hari

Telekomunikasi :

Sistem telekomunikasi di pabrik LBG harus mampu mendukung operasi 24 jam dan memungkinkan integrasi dengan SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) untuk pemantauan mesin secara real-time. Koneksi internet berkecepatan tinggi dengan stabilitas tinggi dibutuhkan untuk memantau upgrading unit dan sistem liquefaction yang sensitif terhadap perubahan tekanan dan suhu