Link berhasil disalin!

Industri Alas Kaki Jawa Tengah Kian Kokoh, Jadi Magnet Investasi dan Penggerak Reindustrialisasi

A

Admin

31 Jul 2026
Industri Alas Kaki Jawa Tengah Kian Kokoh, Jadi Magnet Investasi dan Penggerak Reindustrialisasi

SEMARANG – Industri alas kaki dan produk kulit di Jawa Tengah terus menunjukkan peran strategis sebagai salah satu penggerak utama investasi daerah. Di tengah dinamika ekonomi global, sektor ini berhasil menjadi penyumbang realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah pada Semester I Tahun 2026 sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai pusat industri alas kaki nasional.

Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, realisasi investasi Jawa Tengah pada Semester I Tahun 2026 mencapai Rp48,54 triliun atau 48,99 persen dari target tahunan sebesar Rp99,09 triliun. Capaian tersebut berasal dari 55.989 proyek investasi yang mampu menyerap 213.217 tenaga kerja Indonesia.

Dari seluruh sektor yang berinvestasi di Jawa Tengah, industri barang dari kulit dan alas kaki menempati posisi pertama dengan nilai investasi mencapai Rp5,85 triliun atau sekitar 12,05 persen dari total realisasi investasi Semester I Tahun 2026. Nilai tersebut melampaui sektor industri karet dan plastik, industri kayu, industri mesin dan elektronika, serta industri tekstil.

Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan bahwa perkembangan industri alas kaki menunjukkan semakin kuatnya ekosistem industri manufaktur di Jawa Tengah yang didukung oleh ketersediaan tenaga kerja, infrastruktur, kawasan industri, serta kemudahan berusaha.

“Ekosistem industri di Jawa Tengah adalah industri alas kaki dengan dukungan komponennya. Hampir semua brand internasional alas kaki ada di Jawa Tengah terutama wilayah Pantura Jawa Tengah,” ujar Sakina dalam Dialog Potensi Investasi Alas Kaki dan Mendorong Re-Industrialisasi di Jawa Tengah yang diselenggarakan DPN APRISINDO di Semarang, Kamis (30/7).

Menurut Sakina, transformasi struktur industri di Jawa Tengah juga terus berkembang. Industri padat karya yang sebelumnya didominasi sektor tekstil dan garmen kini bergerak menuju sektor manufaktur yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Industri padat karya seperti tekstil dan garment sudah bergeser ke industri manufaktur,” katanya.

Data DPMPTSP menunjukkan bahwa investasi industri alas kaki tersebar di berbagai wilayah, terutama di kawasan Pantura. Kabupaten Tegal, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pemalang menjadi daerah dengan kontribusi investasi terbesar pada sektor tersebut. Sementara dari sisi negara asal investasi, Hong Kong, Korea Selatan, Samoa Barat, Singapura, dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi investor utama industri alas kaki di Jawa Tengah.

Sejumlah perusahaan besar juga telah menanamkan modalnya di Jawa Tengah, di antaranya PT Hardases Abadi, PT Adonia Footwear Indonesia, PT Hwa Seung Indonesia, PT Long Well International, dan PT Aroma Footwear Indonesia dengan nilai investasi mencapai triliunan rupiah.

Selain menjadi sektor unggulan investasi, industri alas kaki juga berkontribusi besar terhadap kinerja ekspor Jawa Tengah. Produk alas kaki tercatat sebagai salah satu komoditas ekspor utama provinsi ini bersama pakaian rajut, pakaian bukan rajut, dan furnitur. Saat ini, pasar Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor produk Jawa Tengah.

Meski demikian, Sakina menilai masih terdapat peluang besar untuk memperluas pasar ekspor industri alas kaki ke negara-negara lain.

“Ekspor alas kaki dominan ke USA, ke depan perlu dikembangkan ke Eropa dan Jepang,” ungkapnya.

Untuk mendukung pertumbuhan industri, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat iklim investasi melalui penyediaan kawasan industri, penyederhanaan perizinan berbasis OSS-RBA, ketersediaan lahan industri, penguatan infrastruktur, serta peningkatan kualitas tenaga kerja. Berbagai kawasan industri strategis seperti KEK Kendal, KEK Industropolis Batang, Batang Industrial Park, hingga Wijayakusuma Industrial Park disiapkan untuk mengakomodasi ekspansi investasi sektor manufaktur, termasuk industri alas kaki.

Sakina menegaskan bahwa industri alas kaki tidak hanya menjadi sektor unggulan investasi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mendorong agenda reindustrialisasi Jawa Tengah. Dengan ekosistem industri yang semakin matang dan dukungan kebijakan pemerintah, sektor ini diyakini akan terus tumbuh serta membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

“Industri alas kaki tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Pantura Jawa Tengah saja,” kata Sakina. “Potensi pengembangannya masih sangat besar dan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah di berbagai wilayah Jawa Tengah.” (Humas DPMPTSP Jateng)*Wf

Bagikan Artikel