Link berhasil disalin!

Di Tengah Ketidakpastian Global, Investasi Jateng Tetap Tumbuh dan Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

A

Admin

29 Jul 2026
Di Tengah Ketidakpastian Global, Investasi Jateng Tetap Tumbuh dan Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan kinerja investasi yang positif pada Semester I Tahun 2026. Di tengah dinamika geopolitik global yang masih berlangsung, realisasi investasi di wilayah ini mencapai Rp48,54 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 213.217 orang dari 55.989 proyek investasi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan akumulasi realisasi investasi pada Triwulan I sebesar Rp23,02 triliun dan Triwulan II sebesar Rp25,53 triliun. Nilai investasi pada Triwulan II tercatat meningkat 10,88 persen dibandingkan periode sebelumnya.

"Alhamdulillah, di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja, Jawa Tengah tetap bertambah dan bertumbuh 10,88 persen dari triwulan pertama sebesar Rp23,02 triliun menjadi Rp25,53 triliun pada triwulan kedua, sehingga capaian semester I sebesar Rp48,54 triliun," ujar Sakina, Rabu (29/7/2026).

Dari total realisasi investasi tersebut, kontribusi terbesar berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencapai Rp25,92 triliun atau 53,40 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.

Capaian Semester I 2026 tersebut telah memenuhi 48,99 persen dari target investasi Jawa Tengah tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp99,09 triliun.

Sakina menjelaskan, lima negara dengan nilai investasi terbesar di Jawa Tengah selama Semester I 2026 adalah Hong Kong dengan investasi Rp7,67 triliun atau 29,61 persen dari total PMA. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar Rp6,19 triliun (23,90 persen), Tiongkok Rp4,55 triliun (17,56 persen), Jepang Rp2,20 triliun (8,51 persen), serta Korea Selatan Rp1,10 triliun (4,23 persen).

Dari sisi wilayah, Kota Semarang menjadi daerah dengan realisasi investasi tertinggi, yakni Rp6,57 triliun. Disusul Kabupaten Kendal sebesar Rp6,56 triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 triliun, dan Kabupaten Demak Rp3,34 triliun.

Sektor manufaktur masih menjadi motor utama investasi di Jawa Tengah. Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki mencatatkan realisasi terbesar dengan nilai Rp5,85 triliun atau 18,02 persen. Selanjutnya Industri Karet dan Plastik sebesar Rp5,10 triliun (15,12 persen), Industri Kayu Rp4,73 triliun (8,42 persen), Industri Mesin, Elektronik, dan Alat Kedokteran Rp4,21 triliun (8,15 persen), serta Industri Tekstil Rp3,92 triliun (7,96 persen).

Sementara itu, Kota Semarang juga menjadi daerah dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi, mencapai 33.900 orang yang mayoritas berasal dari sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Kabupaten Kendal menyerap 19.386 tenaga kerja, Kabupaten Brebes 18.203 orang, Kabupaten Jepara 17.338 orang, dan Kabupaten Semarang sebanyak 15.854 orang.

Untuk memperkuat iklim investasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong pengembangan kawasan industri di berbagai daerah. Upaya tersebut dilakukan guna mendukung kesiapan infrastruktur sekaligus memberikan kemudahan bagi investor yang berinvestasi di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan industri.

Sebanyak 12 kawasan industri baru ditargetkan akan dikembangkan di sejumlah wilayah, meliputi Rembang, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, Brebes, Kabupaten Semarang, Grobogan, Boyolali, Kebumen, Banyumas, dan Cilacap.

"Atas arahan Pak Gubernur Ahmad Luthfi, kami di DPMPTSP melakukan identifikasi terhadap 35 kabupaten/kota. Alhamdulillah ada enam lokasi, yaitu Rembang, Kendal, Pemalang, Demak (Pantura), Sukoharjo, dan Grobogan, yang telah diminati investor untuk menjadi kawasan industri. Kami juga akan melakukan pengawalan terhadap seluruh prosesnya agar dapat segera terwujud menjadi kawasan industri," pungkas Sakina. (Humas DPMPTSP Jateng)*Al/Ab

Bagikan Artikel