Performa Realisasi Investasi Di Jawa Tengah
Performa Realisasi Investasi Di Jawa Tengah
Tanggal Publish : 02-04-2020

Pada tahun 2019 lalu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan berbagai macam pencapaian terkait kinerja pembangunan yang ada di Jawa Tengah. Dari mulai infrastruktur, pariwisata, ekonomi, dan lainnya. Selain itu, kinerja investasi di Jawa Tengah pada tahun lalu menunjukkan tren yang positif. Dimana realisasi investasi di Jateng mencapai Rp. 222,26 triliun.

Investasi-investasi tersebut tersebar dalam 13.519 proyek dan tentunya menyerap banyak tenaga kerja yaitu dengan jumlah 578.612 orang yang ada di Jawa Tengah. Jika dilihat dari segi infrastruktur, beberapa proyek di Jawa Tengah menunjukkan progres yang signifikan. Misalnya di bidang infrastruktur perhubungan, ada tiga bandara yang proses pembangunannya dikebut, yaitu Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga, Bandara Dewandaru Karimunjawa, dan Bandara Ngloram Cepu Blora.

Selain itu, Jawa Tengah juga sudah menambah satu koridor Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng, Semarang-Kendal. Sehingga hal ini melengkapi dua koridor yang sudah ada sebelumnya, yakni Semarang-Bawen dan Purwokerto-Purbalingga.

Beralih ke sektor pariwisata, yang mana sejumlah kegiatan dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara terus dilakukan. Di sisi lain, sejumlah sektor seperti pertanian, UKM, infrastruktur jalan, koperasi, penanggulangan bencana, dan lainnya juga sudah menunjukkan capaian kinerja yang positif. Di beberapa sektor tersebut, sejumlah program kerja sudah dapat dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Pada tahun 2019 kemarin, Jawa Tengah telah mampu merealisasikan pencapaian investasi sebesar Rp 59.503.279.993.784. Hal ini berarti realisasi investasi di Jateng mengalami kenaikan sebesar 0,4 persen dari pencapaian pencapaian tahun sebelumnya. Untuk negara investor yang paling besar adalah Jepang, yaitu dengan nilai investasi yang mencapai US$2.402.472,70.

Kepala DPMPTSP Jateng mengungkapkan bahwa pencapaian realisasi investasi di Jateng sebesar Rp. 59,50 triliun, yang terbagi menjadi dua yaitu untuk penanaman modal asing Rp. 40.848.599.193.784 serta untuk modal dalam negeri sebesar Rp. 18.654.680.800.000. Menurutnya, dalam skala nasional, Jateng telah menempati urutan nomor tiga dalam hal pencapaian investasi asing setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Untuk sektor investasi yang paling diminati oleh investor asing adalah listrik, gas, serta air yaitu sebesar 86 persen. Sedangkan lokasi di Jawa Tengah yang paling banyak terdapat proyek investasi asing di dalamnya adalah wilayah Kabupaten Jepara, kemudian Kabupaten Batang, dan yang terakhir Kota Semarang.

Di sisi lain, sektor energi masih menjadi dominan, yaitu listrik, gas, dan juga air. Sektor tersebut masih menjadi dominan karena memang proyek-proyek di sektor listrik, gas, dan juga air mendapat investasi yang paling besar.

Dengan pencapaian-pencapaian yang telah didapatkan ini, harapannya Jawa Tengah dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi supaya semakin berkembang dan maju. Seluruh sektor bergerak meningkatkan kinerja investasi di Jawa Tengah dengan tujuan untuk menarik sebanyak mungkin investor asing dan juga investor dalam negeri.

Tahun ini, pemerintah daerah akan lebih memperhatikan lagi terkait investasi dalam negeri dan berupaya menaikkan kembali. Untuk mencapai hal tersebut, salah satu sektor yang akan dikembangkan guna mendorong kinerja investasi dalam negeri yaitu UMKM atau usaha kecil mikro dan menengah. UMKM perlu terus dipacu karena porsi dari sektor tersebut dalam struktur perekonomian di Jawa Tengah cukup penting dan signifikan.

Dalam catatan bisnis, sekarang ini pemerintah Jawa tengah sedang mengembangkan sejumlah kawasan strategis, terutama pada sektor industri serta pariwisata. Di sektor industri sendiri Jawa Tengah sudah memiliki tiga kawasan industri yang siap menampung investasi-investasi. Ketiga kawasan industri tersebut antara lain, Kawasan Industri Kendal “KIK”, Kawasan Industri Batang, dan Kawasan Industri Brebes. Satu diantara ketiga kawasan industri tersebut kini telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus “KEK” oleh pemerintah pusat.

Sedangkan pada sektor pariwisata, Jawa Tengah sudah memiliki Kawasan Strategis Pariwisata Nasional “KSPN” di Borobudur. Pengemabngan kawasan-kawasan tersebut juga diimbangi dengan perbaikan sejumlah aspek penting, mulai dari jalan raya, termasuk jalan tol sampai pembangunan wilayah di sekitar kawasan pariwisata yang digunakan sebagai penopang aktivitas di berbagai kawasan strategis tersebut.

Perlu juga diketahui bahwa tren positif realisasi investasi ditopang oleh beberapa aspek yang bisa mendorong minat investor untuk berinvestasi di Jawa Tengah. Kendati demikian, pemerintah juga harus membenahi beberapa aspek guna mendukung investasi yang sifatnya berkelanjutan.

Adapun beberapa kendala yang harus pemerintah hadapi yaitu terkait sektor ketenagakerjaan, hal ini berkaitan dengan banyaknya keluhan terhadap sistem pesangon yang di dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, yaitu tentang ketenagakerjaan. Selain itu adalah persoalan regulasi daerah yang tidak sinkron dengan pusat. Termasuk koordinasi antara pemerintah kabupaten atau kota dengan pemerintah provinsi.

 

Di sisi lain, tantangan lain yang harus dihadapi adalah mengenai infrastruktur pendukung, konektivitas ke pelabuhan, dan juga kapasitas pelabuhan untuk lalu lintas perdagangan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dengan demikian, harapannya data dan juga perkembangan investasi yang ada di Jawa Tengah bisa menjadi acuan dalam meningkatkan lagi realisasi investasi di Jateng.

Baca Berita Lainnya