Mengenal Investasi Syariah Sebagai Solusi Investasi Para Muslim
Mengenal Investasi Syariah Sebagai Solusi Investasi Para Muslim
Tanggal Publish : 29-04-2020

Sekarang ini, banyak metode syariah yang bermunculan di masyarakat, mulai dari bank, tabungan, hingga saham bertipe syariah. Adanya metode syariah ini bermula dari anggapan adanya riba dalam bunga tabungan yang didapatkan oleh bank. Terlebih saham, banyak orang yang beranggapan bahwa berinvestasi dengan saham sama saja seperti berjudi.

Namun disisi lain, saham sebenarnya dapat menjadi salah satu cara menginvestasikan dana anda untuk mencapai keuntungan yang diinginkan. Selain itu, saham juga dianggap sebagai investasi yang lebih cocok bagi orang-orang yang memiliki banyak dana. Akan tetapi, sekarang ini saham dapat dibeli dimana saja dengan modal yang tidak begitu besar. Oleh karena itu, saham dapat dicoba untuk banyak kalangan yang ingin melakukan investasi.

Bayang-bayang terkait keuntungan yang menggiurkan menjadi salah satu alasan orang-orang bermain saham. Namun hal itu pula yang membuat sebagian orang menganggap bahwa saham sama seperti judi. Anggapan bahwa bermain saham sebagai tindakan judi ini tentu saja tidak tepat. Sebab, judi adalah tindakan ilegal, sedangkan bermain saham merupakan tindakan legal, sah, dan diakui. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sudah memastikan tidak terdapat unsur perjudian dalam investasi saham.

Kembali lagi ke soal saham syariah, kini kepopulerannya semakin meningkat membuat banyak orang tertarik untuk mendapatkan emitennya. Terlebih untuk para muslim, jenis investasi ini tentu dianggap mampu mengakomodasi keinginan berinvestasi yang sesuai dengan nilai agama yang dianut. Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri saham syariah yang membedakannya dengan saham konvensional:

1.   Emiten tidak bertentangan dengan syariat Islam

Pada dasarnya, saham syariah dan saham konvensional tidak terlalu berbeda. hal yang membedakan hanyalah terkait jenis emiten atau perusahaan yang dapat dibeli. Di dalam saham konvensional, investor dapat membeli emiten apapun yang menarik dan berprospek bagus. Sedangkan di dalam saham syariah, terdapat beberapa emiten perusahaan yang tidak bisa dimasuki karena bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti penanaman saham di perusahaan rokok dan alkohol.

2.   Sistem bagi hasil

Hampir sama dengan bank-bank syariah yang tidak menerapkan unsur riba, saham syariah juga tidak menerapkan unsur riba di dalamnya. Sistem yang diterapkan pada saham syariah adalah sistem bagi hasil. Dimana pemegang saham tidak hanya akan mendapatkan sebagian keuntungan dari perusahaan, namun juga memiliki risiko yang sama besar jika perusahaan tersebut mengalami kerugian.

3.   Musyawarah untung rugi

Di dalam saham syariah musyawarah untung rugi harus dilakukan ketika akan mendaftarkan saham. Kedua belah pihak, baik dari investor maupun pihak perusahaan harus bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan atau mufakat. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai itikad saham. Dengan adanya hal tersebut, para pemegang saham dapat terlepas dari yang namanya ghahar atau informasi yang menyesatkan maupun masyir yaitu risiko yang berlebihan.

Selain itu, pihak perusahaan maupun perseroan memiliki ketentuan dalam hal memaparkan dengan sejelas-jelasnya terkait informasi perusahaan. Hal ini bertujuan supaya tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.  Informasi tersebut diberitahukan kepada calon pemegang saham oleh perusahaan yang menjual saham tersebut. Para calon investor juga dapat mengajukan pertanyaan yang dianggap perlu dan ingin mereka ketahui terkait emiten yang diinginkan. Dengan begitu, para investor dapat terhindar dari informasi yang menyesatkan.

 

Sistem di saham syariah juga membuat para pemegang saham merasa bertanggung jawab atas risiko yang ada. Contohnya, pemegang saham harus ikut menanggung kerugian yang didapat dari emitennya. Dengan begitu, diharapkan para pemegang saham tidak serakah mengejar keuntungan dan bermain saham secara bijak.

Baca Berita Lainnya